Polling Pengunjung

Bagaimana Kesannya Mulai Masuk Sekolah ?




 

Who's Online

Kami memiliki 4 Tamu online

Login Form



Seminar dengan tema “Menghargai Diri Sendiri dan Orang Lain”

PDFCetakE-mail

Saling menghargai adalah nilai dasar untuk hidup berdampingan dalam masyarakat yang majemuk. Rasa saling menghargai perlu dipupuk sejak dini agar para siswa dan siswi menjadi pribadi yang berkualitas. Menyadari hal ini maka pada tanggal 10 Januari 2019 SMP Taruna Bangsa mengadakan seminar yang bertemakan “Menghargai Diri Sendiri dan Orang Lain” yang dibuka secara resmi oleh Ibu Kepala Sekolah SMP. Seminar ini dibawakan oleh Bapak Paulus, melalui seminar ini diharapkan agar para siswa dan siswi SMP Taruna Bangsa bisa menjadi pribadi yang lebih berkualitas dan dapat hidup secara berdampingan.


           Ibu Kepala Sekolah SMP Taruna Bangsa Membuka Seminar

Seminar ini terbagi menjadi beberapa sesi yang sangat menarik, sesi pertama dibuka dengan memberikan nilai tentang cara berbicara dan menghargai ketika orang lain sedang berbicara, dilanjutkan dengan perkenalan pembicara beserta dengan timnya. Pada sesi ini Bapak Paulus kerap meminta siswa dan siswi melakukan tepuk pramuka untuk mencairkan suasana, berikutnya Bapak Paulus meminta para siswa dan siswi menggambar pemandangan pada secarik kertas yang kemudian akan ditebak maknanya oleh Bapak Paulus.

Praktek Menghargai Orang Lain Ketika Berbicara

Pada sesi ini Bapak Paulus juga memupuk kepercayaan diri dan melawan rasa takut dengan meminta lima orang siswa dan siswi untuk maju kedepan. Mereka diminta untuk melakukan beberapa gerakan.

Pada aktivitas berikutnya Bapak Paulus mengajak para siswa dan siswi melakukan permainan “Tugu Pancoran” yang merupakan perpaduan gerakan yang dilakukan oleh lima orang yang maju ke depan sebelumya. Permainan “Tugu Pancoran” merupakan perpaduan dari gerakan tugu pancoran yang terdiri dari satu orang, gerakan ojek yang terdiri dari dua orang, gerakan lampu merah yang terdiri dari tiga orang, gerakan mawar yang terdiri dari empat orang, dan gerakan sampan yang terdiri dari lima orang. Permainan “Tugu Pancoran” dimainkan dengan mengikuti instruksi dari pembicara. Pokok inti dari sesi ini adalah mengajarkan siswa dan siswi untuk fokus, menganalisa dan mengambil pembelajaran dari setiap hal yang terjadi sehari hari.

Para Siswa dan Siswi Bermain Tugu Pancoran Dengan Sangat Antusias

 

Sesi kedua dimulai dengan pembicara yang menanyakan aplikasi yang kerap digunakan oleh siswa dan siswi di handphonenya. Pembicara juga mengajarkan untuk menggunakan handphone dengan benar, pembelajaran ini diawali dengan meminta siswa dan siswi untuk menuliskan lima kalimat “Saya bersyukur akan …” di aplikasi note pada handphone mereka masing-masing. Pada sesi ini pembicara juga menjelaskan tentang “Alaram tubuh” yang merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan oleh tubuh manusia berdasarkan pada kebiasaan sehari-hari yang dilakukannya. Pembicara juga menjelaskan bahwa untuk membiasakan diri akan suatu kebiasaan yang baru diperlukan waktu dua puluh satu hari. Pada aktivitas  berikutnya Pembicara meminta setiap kelas untuk membuat kelompok di aplikasi WhatsApp untuk menerapkan kebiasaan baru selama dua puluh satu hari. Kelompok tersebut diminta menuliskan lima kalimat “Saya Bersyukur akan…”. Kemudian para siswa diajak untuk menyimak sebuah video singkat yang berjudul “Ayo Memuji” disini kita diajak untuk mencari hal positif dari setiap orang.

Para Siswa dan Siswi Mencari Inspirasi dari Potongan Gambar di Surat Kabar

Sesi ketiga dimulai dengan sebuah permainan yang meminta para siswa dan siswi untuk berdiri dengan urut berdasarkan tinggi badan, kemudian meminta berubah urutannya berdasarkan bulan lahir, kemudian pembicara kembali meminta untuk merubah urutan berdasarkan tanggal lahir. Semua kegiatan ini dilakukan tanpa berkomunikasi secara verbal antar siswa. Melalui permainan ini diharapkan siswa dan siswi menjadi lebih kompak.

Pada kegiatan berikutnya pembicara membuat kelompok dari siswa dan siswi, setiap kelompok dibagikan surat kabar, masing-masing anggota kelompok akan mengambil potongan gambar dari surat kabar tersebut untuk menuliskan narasi mengenai inspirasi yang didapat berdasarkan gambar tersebut.

Pada akhir seminar Bapak Paulus memberikan perumpamaan tentang “Singa yang baik dan singa yang jahat” melalui perumpamaan ini pembicara menyampaikan untuk lebih sering berkelakuan baik. Pembicara juga mengingatkan untuk selalu mengejar impian dengan mengajak siswa dan siswi meninjau kembali apakah yang mereka lakukan hari itu membawa mereka semakin dekat atau menjauh dari impiannya.

Keceriaan Para Siswa dan Siswi Bersama Guru Setelah Seminar Berakhir

Penerimaan Peserta Didik

Baner

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini9
mod_vvisit_counterKemarin197
mod_vvisit_counterMinggu Ini703
mod_vvisit_counterBulan Ini3993
mod_vvisit_counterTotal Pengunjung579431

GTranslate

Galeri Foto

  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow
  • An Image Slideshow